Selamat Datang

Selamat Datang Ke Laman Perguruan Silat Lintau Yang Asli... Silat Lintau Yang Berasal Dari Tepi Selo, Lintau Buo Utara.

PERTUBUHAN SILAT LINTAU KELANTAN: PERSILEK Headline Animator

Thursday, 24 March 2011

LINTAU FM

Perkembangan terkini dari Kelantan


Lintau FM  kini dilancarkan. Sila klik pada butang play yang terletak dibawah sekali iaitu butang play yang besar. Anda akan dapat mengikuti siaran berupa lagu dan musik yang disediakan oleh pihak admin Lintau FM. 


AKAN DATANG:


Siaran berkala yang akan mengandungi


1. Kuliah agama oleh Dr Kamal Shah dan beberapa tokoh lain


2. Bacaan Surah pilihan daripada Al-Quran


3. Ceramah Silat


Buat masa ini pihak admin sedang menyusun jadual siaran dan bahan yang sesuai. Buat masa ini Lintau FM hanya boleh didengar setiap kali admin online.


Semuga terhibur.

Sunday, 20 March 2011

SEKADAR RENUNGAN...




Mafhumnya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya" Al Baqarah:30



Apakah Pengajaran Yang Dapat Diambil Daripada Ayat Ini? Didalam Ayat Ini Ada Beberapa
Perkara Tentang Manusia Dan Malaikat Seperti Yang Telah Saya Highlightkan Iaitu :

1. Orang Yang Akan Membuat Bencana Dan Menumpahkan Darah (Berbunuhan) Dan;

2. Yang Sentiasa Bertasbih Dengan Memujimu Dan Mensucikanmu.

Inilah Rahsia Yang Terkandung Didalam Ayat Ini, Panduan Bagi Kita Menjalani Kehidupan 
Seharian Didunia Ini. Kata Kunci Yang Terdapat Dalam Ayat Ini Jelas Sekali Bagi Mereka 
Yang Mahu Berfikir. Sebagai Manusia, Kita Diberi Akal Fikiran Untuk Membuat Pilihan, Jalan 
Manakah Yang Akan Diikuti Semasa Hidup Didunia Ini. Adakah Kita Akan Memilih Jalan 
Yang Pertama Atau Jalan Yang Kedua. 


Seorang Pandeka Yang Sebenar Akan Sentiasa Memilih Jalan Bertasbih Dengan Memuji Dan 
Mensucikan Allah Swt Setiap Masa Dan Ketika, Dalam Gerak Dan Diam, Dalam Tidur Dan 
Bangun. Inilah Yang Dinamakan Taqwa (God Consciousness) Yang Sebenar. 


Pabila Seseorang Itu Sentiasa Ia Didalam Keadaan Bertasbih Dan Mengingati Akan Allah 
Maka Ia Akan Terhindar Daripada Melakukan Bencana Dan Menumpahkan Darah Diatas Muka 
Bumi Ini Insha Allah.


Renung2kanlah…


Wassalam

Dr. Kamal Shah



Friday, 18 March 2011

Silabus Silat Lintau Kelantan


Silabus Silat Lintau
PERHATIAN: Nama2 Ibu/Buah Silat Yang Tertera Dibawah Ini Bukan Nama Asal. Saya Mengemukakan Silabus Yang Mudah Dihafal Oleh Pelatih Yang Kebanyakannya Terdiri Dari Pelajar Sekolah. ~ Dr. Kamal.


TEGAK ALIF
·         Menanti Serangan Musuh
·         Menyambut Cekak Tua
·         Serang Balas
o   Luar
o   Dalam
o   Atas
o   Bawah

LANGKAH SATU
·         Menyambut Serangan Dalam Langkah Satu
·         Serang Balas
o   Luar
o   Dalam
o   Atas
o   Bawah
o   Gelek
o   Masuk Balik
o   Masuk Gelek

LANGKAH DUA
·         Menyambut Serangan Dalam Langkah Dua
·         Serang Balas
o   Luar
o   Dalam
o   Atas
o   Bawah
o   Gelek
o   Kemudi Luar
o   Kemudi Kanan

LANGKAH TIGA
·         Menyambut Serangan Dalam Langkah Tiga
·         Serang Balas
o   Luar
o   Dalam
o   Atas
o   Bawah
o   Gelek
o   Kemudi Luar
o   Kemudi Kanan

LANGKAH EMPAT (GELEK DAN PELANTIK)
·         Menyambut Serangan Dalam Langkah Empat
·         Serang Balas
o   Luar
o   Dalam
o   Atas
o   Bawah
o   Gelek
o   Separuh Tiang
o   Harimau Mengintai
o   Kemudi Luar
o   Kemudi Kanan

LANGKAH LIMA PELANTIK
·         Menanti Serangan Dalam Kedudukan Tegak
·         Menyambut Serangan Dalam Langkah Lima
·         Mengheret Kerbau
o   Luar
o   Dalam
o   Atas
o   Bawah
o   Gelek
o   Kemudi Luar
o   Kemudi Kanan

GELOMBANG DUA BELAS

·         UNTUK PEMBANTU JURULATIH


LANGKAH LIMA HARIMAU

·         Menanti Serangan Dalam Kedudukan Tegak
·         Menyambut Serangan Dalam Langkah Lima
·         Mengheret Kerbau
o   Luar
o   Dalam
o   Atas
o   Bawah
o   Gelek
o   Kemudi Luar
o   Kemudi Kanan

LANGKAH ENAM PELANTIK
·         Menanti Serangan Dalam Kedudukan Pelantik
o   Gelek Tuah
o   Gelek Tarik
o   Harimau Menampar
o   Tukar Kemudi
o   Dayung Bertukar Tangan

LANGKAH TUJUH

·         UNTUK JURULATIH TAHAP 3-5


LANGKAH LAPAN

·         UNTUK JURULATIH TAHAP 6-7


LANGKAH SEMBILAN

·         UNTUK JURULATIH TAHAP 7-9 

Monday, 28 February 2011

Pencak Silat Dalam Tinjauan Historis

Perkembangan sejarah pencak silat di indonesia lebih tua dari pada sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu sendiri, karena sebelumnya NKRI ini masih berbentuk kerajaan-kerajaan kecil yang disebut dengan nama Nusantara dan belum dinamakan Indonesia seperti setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya hingga hari ini.
Waktu itu pencak silat atau masih disebut silat sudah dikenal di berbagai daerah yang  masih berbentuk kerajaan-kerajaan kecil di tiap wilayah Nusantara seperti Kerajaan  Aceh, Kerajaan Mataram,Kerajaan Minangkabau,Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, dan lain-lain, sampai pada saat Kerajaan Majapahit bisa menguasai dan menyatukan kerajaan-kerajaan di nusantara dibawah satu kepemimpinan dibawah mahapatih Gajah Mada dan Rajanya Hayam Wuruk, yang selanjutnya diteruskan oleh Kerajaan Islam Demak yang juga menyatukan wilayah Nusantara. pada waktu itu prajurit-prajurit di setiap kerajaan sudah dibekali dengan ketrampilan dan teknik-teknik pembelaan diri sesuai dengan teknik silat yang berkembang pada waktu itu dari berbagai daerah yang ada di nusantara, letak geografis dan etnis yang ada di nusantara waktu itu juga sangat mempengaruhi perkembangan teknik silat disetiap wilayah nusantara, bahkan dari berbagai keterangan yang ada bahwa pencak silat nusantara waktu itu  juga dipengaruhi oleh budaya dan agama yang masuk ke nusantara seperti budaya hindu,budha yang dibawa oleh para pedagang dari India, China, dan juga pengaruh dari para pedagang  Arab dan Turki yang beragama Islam. Bahkan mungkin jauh sebelum kedatangan Islam di Jazirah Arab, karena menurut sejarah para pedagang Arab sudah menjalin hubungan dagang dengan kerajaan Nusanatara jauh sebelum kedatangan Islam seperti contoh kapur barus yang digunakan untuk membalsem mayat atau mummi di Mesir pada waktu itu didatangkan dari daerah baros Sumatera Utara, dan juga dari kajian sejarah yang ada bahwa ada dua sumber besar silat yang mempengaruhi perkembangan  silat di Nusantara yaitu silat dari Minangkabau dan silat dari Tatar Pasundan, dan perkembangan selanjutnya tradisi silat diturunkan secara turun temurun baik dari silsilah keluarga maupun orang – orang terdekat dengan informasi yang menyebar dari mulut ke mulut, dan ditambah karena situasi setelah kedatangan penjajah di bumi Nusantara, perkembangan silat memasuki era ketertutupan karena khawatir diketahui penjajah dan dianggap sebagai pemberontak, kisah-kisah para pendekar-pendekar yang digjaya bermunculan dari masa kemasa dari zaman dulu sebelum kedatangan penjajah sampai Indonesia merdeka hingga hari ini, seperti kisah keperkasaan Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit,atau kisah Cindue Mato dari Kerajaan Minangkabau, Raja Sisinga Mangaraja dari Tapanuli, kepiawaian Mpu Tantular dalam membuat keris dan memainkannya dan masih sangat banyak cerita-cerita yang lainnya sebelum kedatangan penjajah di kepulauan Nusantara pada abad ke 15 , dan pada zaman penjajah juga banyak kisah-kisah kependekaran dari berbagai daerah dinusantara seperti kisah Bang Pitung dari Betawi, Pangeran Diponegoro dari Jawa Tengah, Tuanku Imam Bonjol  dari Minang dan kisah pejuang-pejuang lainnya yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang menyebar dari sabang sampai merauke.
Bukti tertulis mengenai asal muasal pencak silat di Nusantara sangat sulit ditemukan , paling sebagai contoh yang ada yaitu perkembangan silat di Minangkabau yang terdapat dalam Tambo Alam Minangkabau bahwa silat atau silek diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari daerah Pariangan Tanah Datar dilereng gunung Merapi Sumatera Barat  pada abad ke-XI.  Kemudian silek dibawa dan dikembangkan oleh para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara seperti yang kita liat pada hari ini diberbagai negara melayu seperti Malaysia, Brunei, Singapura,dan lain-lain.
Kebanyakan sejarah pencak silat di Indonesia dikisahkan melalui legenda yang bermacam-macam dari satu daerah dan daerah lainnya. Seperti asal mula silat aliran Cimande yang mengisahkan tentang seorang wanita yaitu istri Uwa Khair yang menyaksikan pertarungan antara harimau dan monyet pada saat mencuci baju disungai, dan kemudian ia meniru gerakan perkelahian kedua binatang tersebut sehingga muncullah aliran silat Cimande. Asal mula ilmu silat di Indonesia kemungkinan berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan parang, arit, golok, tombak,panah dll. Seperti yang saat ini kita liat di berbagai suku terbelakang di Indonesia yang hingga abad XX relatif belum tersentuh pengaruh dari luar seperti Suku Nias, Dayak pedalaman, dll.
Silat diperkirakan menyebar di kepulauan Nusantara semenjak abad VII Masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan karena belum ada bukti otentik tentang itu. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya asli Melayu dalam pengertian yang luas, yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan daerah Semenanjung Malaka serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan Bahasa Melayu di berbagai daerah di berbagai pulau di Indonesia seperti Jawa, Bali, Kalimantan,  Sulawesi dan pulau-pulau yang lainya yang juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. Dalam Bahasa Minangkabau, itilah silat itu sama dengan silek.
Seperti dituturkan diatas bahwa silat di kepulauan nusantara dipengaruhi oleh budaya India, Cina, Arab dan Turki, hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang sangat terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh para pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Maka kiranya sejarah pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu. Sehingga, setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini sebuah legenda bahwa hang tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat. Hal seperti itu juga yang terjadi di Pulau Jawa, yang membanggakan Mapatih Gajah Mada.
Perkembangan dan penyebaran silat secara histories di Nusantara mulai tercatat ketika penyebaran dan pengajarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 masehi. Catatan historis ini dinilai otentik dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. waktu itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau seperti yang sangat membudaya di Minangkabau karena pengaruh sistem matriliniar maka anak laki-laki yang sudah baligh tidak tidur dirumah orang tuanya tapi tidur disurau sambil belajar mengaji dan belajar silat sama angku surau atau ustadnya. setelah itu silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan kesenian tradisional rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Di samping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual dan kebatinan.
Silat berkembang di Indonesia dan Malaysia (termasuk Brunei dan Singapura) dan memiliki akar sejarah yang sama sebagai cara perlawanan terhadap penjajah asing. Setelah zaman kemerdekaan, silat berkembang menjadi ilmu bela diri formal walaupun masih banyak silat-silat di Indonesia yang masih sangat tradisional dan tertutup seperti kebiasaan di zaman penjajajah. Maka mulailah dibentuk Organisasi-organisasi silat secara nasional  seperti Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Indonesia, Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) di Malaysia, Persekutuan Silat Singapore (PERSIS) di Singapura, dan Persekutuan Silat Brunei Darussalam (PERSIB) di Brunei. dan mulai tumbuh pula puluhan perguruan-perguruan silat di Amerika Serikat dan Eropa serta negara-negara lainnya didunia seperti di Afrika. Silat kini telah secara resmi masuk sebagai cabang olah raga dalam pertandingan internasional,seperti yang dipertandingkan dalam Sea Games dan ada wacana kalau silat juga akan di pertandingkan di ajang Olimpiade.
tulisan ‘bayu umbara’, dikutip dari artikel waroeng silat

Sunday, 27 February 2011

Teknik Asas Silat Lintau Tanah Datar

Gerak Langkah Yang Dipamerkan Ini Merupakan Langkah Asas Dalam Silat Lintau. 


Menurut Fahaman Saya, Silat Lintau Merupakan Silat Yang Lengkap Merangkumi Langkah Dari Satu Hingga Sembilan.



Kenapa Sembilan Sahaja? Bukankah Dalam Alam Silat Melayu Ada Mengatakan Perlangkahan Duabelas? 



Kalau Diperhatikan Betul-Betul, Angka Yang Wujud Hanyalah Satu Hingga Sembilan Sahaja. Yang Faham, Faham Lah, Yang Tak Faham Maksud Ini Lain Kali Lah Saya Terangkan Ya…



Silat Lintau Yang Diperturunkan Oleh Pendekar Talib Yang Berasal Dari Nagari Lintau Dinamakan Silat Lintau Tapak Tiga Untuk Membedakannya Dengan Silat Lintau Langkah Empat. 



Silat Lintau Langkah Empat Merupakan Satu Daripada Sembilan Langkah Yang Terdapat Dalam Silat Lintau.



Kesimpulannya, Silat Lintau Pendekar Talib Merupakan Silat Lintau Yang Penuh.



Akan datang... video.......

Friday, 25 February 2011

KHALIFAH...

SEORANG KHALIFAH IALAH HAMBA ALLAH YANG TAAT PADA PERINTAH ALLAH DAN MELAKSANAKAN SURUHAN ALLAH

GARIS PANDUAN SILAT MENURUT ISLAM

GARIS PANDUAN SILAT MENURUT ISLAM

1. TUJUAN

1.1. Garis panduan ini disediakan untuk dijadikan panduan kepada umat Islam khususnya mereka yang terlibat dengan amalan seni mempertahankan diri tradisional (silat) supaya terhindar dari amalan yang bertentangan dengan akidah dan syariat Islam yang sebenar.

2. PENDAHULUAN

2.1. Islam amat menitikberatkan soal-soal akidah dan syariah. Segala amalan dan kepercayaan yang tidak berdasarkan kepada sumber-sumber asal Al-Quran, Hadis, Ijmak dan Qias adalah ditolak. Kepercayaan-kepercayaan dan amalan-amalan tertentu dalam masyarakat Islam di Malaysia sedikit sebanyak ada hubungkaitnya dengan pengaruh fahaman Anamisme, Dinamisme, Hindu, Buddha dan Syiah (Ghulu) yang sebahagiannya telah menjadi darah daging kepada pengamal suci mempertahankan diri tradisional (silat). Oleh itu gari panduan ini perlu dijadikan asas dan panduan supaya dapat mengelakkan diri dari terjerumus ke dalam penyelewengan akidah dan syariat Islam. Allah berfirman dalam surah Yunus, ayat 106:

ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك فان فعلت فانك اذا من الظالمين
(سورة يونس : 106)

Bermaksud:

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim”.

2.2. Dalam sejarah Islam memang wujud pahlawan-pahlawan yang tekemuka di kalangan para sahabat Rasulullah s.a.w. Mereka telah berjuang menentang Musyrikin Quraisy dan penentang-penentang ajaran Islam dari kalangan Munafikin. Antara sahabat berkenaan ialah Saidina Ali, Khalid Ibnu Walid, Amru b. As-As, Abu Ubaidah b. Al-Jarrah, Saad b. Abi Waqas dan lain-lain lagi. Di dalam Al-Quran didapati banyak ayat-ayat yang menunjukkan bahawa perlunya umat Islam mempersiapkan diri dan kelengkapan senjata serta kemudahan-kemudahan yang perlu untuk mempertahankan agama, diri dan negara. Antaranya ayat 61 surah Al-Anfaal:
وان جنحوا للسلم فاجنح لها وتوكل على الله انه هو السميع العليم
(الانفال : 61)

Bermaksud:

“Dan jika mereka (pihak musuh) cenderung kepada perdamaian, maka engkau juga hendaklah cenderung kepadanya serta bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui”.

2.3. Di dalam ilmu persilatan terdapat beberapa syarat yang perlu dipatuhi sama ada ketika hendak masuk silat, setelah masuk atau selepas tamat dan diijazahkan. Di antara syarat-syarat tersebut:

(a) menyediakan pengeras seperti pulut kuning, limau purut, kain putih, bayaran pengeras dan sebagainya.
(b) mandi dengan air mandian tertentu sebagai lambang membersihkan segala kekotoran zahir dan batin.
(c) tidak boleh meninggalkan sembahyang.
(d) Tidak boleh banyak bertanya ketika guru sedang mengajar atau mempersoalkan sebarang tindakan guru.
(e) Melakukan gerak silat membuka atau menutup gelanggang setiap kali memula atau menamatkan latihan silat.

2.4. Guru memainkan peranan penting di dalam menyampaikan sesuatu ilmu bagi menjamin kesahihan dan kesempurnaan ilmu tersebut. Di dalam ilmu persilatan, guru adalah lambang kesempurnaan.

2.5. Sesuatu seni mempertahankan diri tradisional (silat) itu perlulah didasarkan kepada garis pandua berikut bagi mengenalpasti ianya terhindar dari perkara-perkara yang bercanggah dengan syariat Islam:

(a) Asal Usul Silat
(b) Syarat-Syarat Silat
(c) Guru Silat
(d) Ikrar Sumpah dan Taat Setia
(e) Pantang Larang
(f) Adab
(g) Gerak Langkah
(h) Amalan Dalam Silat
(i) Pengijazahkan
(j) Matlamat Silat

3. GARIS PANDUAN SILAT DAN SENI MEMPERTAHANKAN DIRI

3.1. Asal-Usul Silat

3.1.1. Demi menjaga kesucian akidah Islam, beberapa perkara perlu diambil perhatian iaitu setiap individu atau kumpulan tidak boleh mendakwa bahawa:

(a) Silat mereka bersumber dari Nabi Muhammad s.a.w. para anbia atau diambil dari Al-Quran dan Hadis atau berasal dari amalan para sahabat Nabi s.a.w.

(b) Teknik atau pergerakan persilatannya berasal dari ibadat-ibadat tertentu seperti rukun-rukun sembahyang.

(c) Seni silat mereka bersumberkan mimpi bertemu Rasulullah s.a.w. atau para anbia yang lain atau para sahabat serta ulama.

3.2. Syarat-syarat Silat

3.2.1. Bagi mempastikan syarat-syarat di dalam ilmu persilatan tidak bercanggah dengan ajaran Islam maka:

(a) Semua perkara yang wajib dilakukan atau ditinggalkan oleh seorang Islam, yang mukallaf tidak boleh dijadikan syarat di dalam silat seperti sembahyang, puasa, jangan durhaka kepada ibubapa, sehingga mendatangkan anggapan bahawa perkara wajib tersebut menjadi wajib hanya apabila dijadikan syarat.

(b) Tidak boleh mengaitkan sesuatu pengeras dengan suatu akibat yang dipercayai boleh merosakkan pegangan akidah.

(c) Tidak boleh percaya kepada sial seperti mandi membuang sial atau mandi-mandi tertentu yang dikaitkan dengan persilatan.

(d) Tidak boleh melakukan gerak silat atau bacaan tertentu yang mengandungi unsur-unsur meminta izin atau bantuan dari kuasa-kuasa makhluk “ghaib” dalam acara “gerak membuka atau menutup gelanggang”, “’ayat kebal” atau “pukulan angin maut” atau sembelih ayam dalam gelanggang.

(e) Tidak boleh mentaati guru atau seseorang pada perkara-perkara yang jelas bercanggah dengan akidah dan syariat Islam.

(f) Sebarang syarat yang bertentangan dengan akidah, syariah dan akhlak Islam.

3.3. Guru Silat

3.3.1. Guru silat yang beragama Islam hendaklah bukan terdiri daripada:

(a) mereka yang melakukan perkara-perkara syirik, sama ada melalui perkataan, perbuatan atau iktikad.

(b) mereka yang melakukan maksiat/jenayah dan yang bertentangan dengan moral.

(c) pemecah belah masyarakat.

(d) Mereka yang mentafsir ajaran agama Islam mengikut hawa nafsu.

3.3.2. Jika seseorang guru silat hendak melibatkan diri dalam hal agama hendaklah mengetahui asas-asas agama Islam sama ada fardhu ain atau fardhu kifayah seperti rukun Islam, rukun Iman, cara mengerjakan sembahyang dan sebagainya.

3.3.3. Guru silat dilarang memasukkan atau menggunakan unsur-unsur yang bercanggah dengan Islam seperti sihir dan ilmu kebal di dalam ilmu persilatan.

3.4. Ikrar Sumpah Dan Taat Setia

3.4.1. Sumpah tidak dibolehkan sebaliknya hanya ikrar.

3.4.2. Murid-murid tidak boleh taat secara membuat tuli kepada guru. Mereka hendaklah mengikut perintah guru selama tidak bercanggah dengan perintah Allah.

3.4.3. Sumpah tidak boleh digunakan kepada perkara-perkara yang telahpun diwajibkan di dalam Islam seperti bersumpah akan taat kepada ibubapa, bersumpah akan taat kepada Allah dan Rasul dan sebagainya.

3.4.4. Bacaan-bacaan, amalan dan ikrar yang terdapat di dalam sumpah hendaklah mengandungi perkara-perkara yang tidak bercanggah dengan akidah dan syariat Islam seperti memuja dewa, atau nama berhala.

3.4.5. Di dalam upacara sumpah dan bai’ah sama ada dari segi fizikal atau mental hendaklah tidak mempunyai unsur-unsur yang mensyirikkan Allah dan menjatuhkan maruah seseorang sebagai umat Islam.

3.5. Pantang Larang

3.5.1. Suatu pantang larang hendaklah bukan daripada perkara-perkara yang jelas diwajibkan di dalam Islam seperti tidak meninggalkan sembahyang, jangan berkelahi sesama ahli dan sebagainya.

3.5.2. Suatu pantang larang tidak boleh dikaitkan dengan unsur-unsur pemujaan, meminta izin, perlindungan atau bantuan daripada makhluk-makhluk ghaib seperti larangan berludah kerana ditakuti tidak menjadi.

3.5.3. Tidak boleh memenuhi kehendak pantang larang sehingga melakukan perkara-perkara yang ditegah di dalam Islam seperti meninggalkan tanggungjawab sebagai suami atau isteri dan sebagainya.

3.5.4. Perkara-perkara yang harus dan halal tidak boleh dihukumkan haram.

3.6. Adab

3.6.1. Adab Murid Dengan Guru:

(a) Guru tidak boleh menganggap dirinya yang paling mulia dan tidak pernah bersalah.

(b) Guru hendaklah mengelakkan diri dari dianggap orang yang perlu ditaati secara mutlak.

(c) Guru tidak boleh menganggap orang lain lemah dan lekeh.

(d) Guru hendaklah melarang murid-muridnya memuja, mengagung dan taksub kepadanya.

3.6.2. Adab Sesama Murid Seperguruan:

(a) Seseorang murid tidak boleh memberikan hak secara khusus kepada murid seperguruannya sahaja, seperti memberi ucapan salam, tidak boleh bergaduh sesama ahli dan sebagainya.

(b) Seseorang murid tidak boleh menanam atau mengapi-apikan perasaan bangga diri dan taksub kepada kumpulannya sehingga memandang hina dan negatif kepada orang lain.

3.6.3. Adab Murid Dengan Orang Lain

(a) Seseorang murid tidak boleh mengutamakan guru silat dan murid-murid seperguruannya sehingga mengabaikan hak dan kewajipannya kepada ibubapa, suami, isteri, anak dan ahli keluarga.

(b) Seseorang murit tidak boleh memandang rendah dan hina terhadap orang bukan dari kalangan ahli silatnya.

(c) Seseorang murid yang beragama mesti menjalinkan ikatan persahabatan sama ada sesama ahli atau orang lain.

3.7. Gerak Langkah


(a) Gerak langkah silat tidak boleh dikaitkan dengan zat Allah dan sifat-sifat-Nya atau merupakan maksud di sebalik kalimah atau nama-nama Allah atau sifat-sifatNya.

(b) Gerak langkah silat tidak boleh diertikan sebagai maksud yang tersirat daripada ahli atau jasad Rasulullah s.a.w., para malaikat, nabi-nabi dan orang soleh.

(c) Gerak langkah silat tidak boleh dimaksudkan dengan perkara-perkara yang berkaitan dengan agama Islam atau perlakuan-perlakuan ibadat yang tertentu seperti dua kalimah syahadah dan sembahyang.

3.8. Amalan Dalam Silat

(a) Tidak boleh memuja dan memperhambkan diri kepada sesuatu kuasa atau peribadi yang boleh mendatangkan nasib baik atau buruk kepada seseorang seperti hantu, dewa, keramat, kubur, keris, busut dan sebagainya.

(b) Tidak boleh menggunakan tangkal dan azimat yang mengandungi rajah-rajah atau tulisan-tulisan yang tidak difahami, objek-objek tertentu dan bercampuraduk dengan ayat Al-Quran.

(c) Tidak boleh mengamalkan bacaan-bacaan tertentu yang tidak difahami maknanya dikhuatiri mengandungi kata-kata pemujaan kepada berhala, iblis, syaitan atau nama berhala orang kafir serta bercampur aduk dengan ayat al-Quran.

(d) Tidak boleh meninggalkan ibadat-ibadat wajib yang dituntut di dalam Islam seperti sembahyang lima waktu dan puasa di bulan Ramadan ketika melakukan amalan silat.

3.9. Pengijazahan


(a) Tidak boleh melakukan isyarat sembah atau gerak tubuh yang melambangkan ketundukan yang menyamai atau melebihi ketundukan yang hanya layak kepada Allah sahaja seperti tidak sembah kepada guru.

(b) Tidak boleh melakukan upacara-upacara yang mengandungi unsur-unsur penyembahan, pemujaan, memohon bantuan atau memperhambakan diri kepada kuasa-kuasa atau tenaga-tenaga ghaib seperti mempersembahkan sedulang makanan, menyembelih ayam dan sebagainya.

3.10. Matlamat Silat


(a) Matlamat silat hendaklah matlamat yang baik seperti untuk kesihatan tubuh badan, mendisiplinkan diri, hidup bermasyarakat, untuk mempertahankan diri dari bahaya dan sebagainya.

(b) Matlamat silat tidak boleh:

(i) Untuk membalas dendam, menuntut bela, membuat aniaya, menakut-nakutkan dan mengugut orang lain.

(ii) Untuk menanam sifat berani yang keterlaluan sehingga hilang hormat kepada ibubapa, guru, ahli keluarga dan lain-lain.

(iii) Untuk memupuk sentimen perkauman atau taksub golongan/kumpulan ekstrim agama yang melampau di kalangan ahli.

4. PENUTUP

Dengan mengikut garis panduan ini diharapkan para pengamal silat dan seni mempertahankan diri supaya dapat menghindarkan diri menyimpang daripada ajaran Islam yang benar, agar hidup sentiasa dirahmati Allah S.W.T.

Jabatan Kemajuan Islam Malaysia,
Kuala Lumpur.